Ini adalah dokumentasi yang dilakukan oleh Pembina Kesenian, yang juga aktif di perbagai kegiatan osis di sekolah ini.
Monday, October 22, 2007
Artikel Kiriman Dari Kesenian
Ini adalah dokumentasi yang dilakukan oleh Pembina Kesenian, yang juga aktif di perbagai kegiatan osis di sekolah ini.
Wednesday, October 3, 2007
Artikel BISIS
Prestasi Akademik atau Tradisi Belajar
Masalah belajar adalah persolan pendidikan yang menyangkut anak-nak kita. Sebuah pembelajaran yang efektif, yang berorientasi kepada transformasi ilmu pengetahuan bagi pola sikap dalam kehidupan sehari-hari, adalah mutlak bagi pembentukkan pribadi yang mapan.
Dalam Islam, ilmu dipandang sebagai fungsi.Ilmu adalah pemberian Allah, sebagi instrumen yang dibutuhkan untuk menata pola kehidupan manusia di bumi. Dalam hal ini, ilmu adalah agen dari agama dalam prakteknya. Itu pula pendapat Imam Malik; agama ini adalah ilmu.
Definisi Belajar
Pendapat ini pula yang mengharuskan kita mendefinisi ulang arti belajar.Belajar dalam pengertiannya yang paling hakiki, kata DR Abdurrahman Al Isawi, adalah suatu perubahan yang terus menerus pada aspek cara berfikir,emosi dan pola sikap, yang lahir dari akumulasi pengalaman, pelatihan dan aplikasi kehidupan. Jadi, belajar adaalh proses perubahan internal dalam individu. Di sini kota bertemu dengan definisi Muhammad Quthub tentang pendidikan. Pendidikan, klata beliau, adalah seni membentuk manusia. Dan belajar, dengan begitu adalah salah satu instrumennya.
Kesalahan Pemahaman
Pemahaamn inilah yang mnegantar kita untuk bertanya "Bagaimana caar kita mengukur kemajuan belajar anak?" Pertanyaan ini menjadi sangat urgen. Karena, di sinilah banyak orang tua, dan bahkan pelaku pendidikan; seperti halnya guru atu ketua jurusan/program, banyak melakukan kesalahan yang terkadang berakibat fatal bagi perkembangan kejiwaan anak.
Selaam ini, kita selalu mengukur kemajuan belajar anak dengan menggunakan pengukuran formal. Misalnya, dengan melihat prestasi akademiknya setelah ujian. Tentulah, latah untuk mengatakan bahwa sistem pengukuran formal ini sama sekali tidak mengekspresikan semua kemajuan belajar anak, dan karenanya tingkat objektivitasnya relatif rendah. Faktor tingkat kecerdasan, misalnya, tidak terwakili penuh oleh sistem pengukuran ini. Maksudnya, tidak semua yang berprestasi di sekolah. Misalnya lagi, faktor psikologi anak ketika ujian. Kecemasan menjelang ujian bisa mempengaruhi memori anak terhadap pelajaran.
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan di salah satu negara Arab menunjukkan bahwa 50% mahasiswa mengalami kecemasan relatif waktu ujian, 33,3% mengalami kecemasan sedang dan 3,3% mengalami kecemasan berat. Dan hanya sekitar 13,4% yang tidak mengalami kecemasan sama sekali; disinyalir adalah para mahasiswa yang memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah. Faktor lain adalah tingkat kontrol terhadap kejujuran anak ketika ujian. Atau,kebijakan umum sekolah atau perguruan tinggi dalam memberi nilai.
Pengukuran yang Tepat
Jadi, cara mengukur kemajuan yang tepat adalah dengan melihat sejauh mana proses perubahan itu berlangsung konstan dan terarah dalam diri anak. Dengan berorientasi pada perubahan pola pokir dan sikap serta kecenderungan psikologis, kita akan menemui sedikit kesulitan;karena pada kenyataannya perubahan itu tidak segera akan terlihat secara nyata.
Namun demikian, yang jauh lebih penting dari sekedar melihat perubahan itu secara nyata, adalah menyakini bahwa proses pembelajaran itu berlangsung sahih. Karena itu, menjadi penting untuk membangun tradisi belajar dan ilmiah yang baik pada anak.
Sebagai penutup, saya akan memperkuat pendapat di atas dengan sebuah hadist:
Itulah paradigma ilmu sebagai fungsi; dalam pengaruhnya terhadap perbaikan mutu dan kualitas hidup sehari-hari
Agus Bagyo
Penulis adalah praktisi pendidikan dari SMK Negeri 1 Batang
Thursday, September 27, 2007
DEWAN REDAKSI BISIS

Dewan Redaksi BISIS Periode 2009/2010
- Pembina
- Agus Bagyo, S.S
- Pembimbing
- Drs.Sudjono
Dra.Narni - Staf Redaksi
- Mila Permata Sari
Ana Wardani
Ismawati
Aminatuz Z
Lilis Septiarini
Dini Setianingrum
Erma
Nurul Arimaya
Kundarno
Lestia Nurul Hikma N
Virgiana Ristanti

Dewan Redaksi BISIS Periode 2008/2009
- Pembina
- Agus Bagyo, S.S
- Pembimbing
- Drs.Sudjono
Dra.Narni - Staf Redaksi
- Mila Permata Sari
Nurul Abadiyah
Yati Octa E
Aminatuz Z
Lilis Septiarini
Dini Setianingrum
Ana Wardani
Kundarno
Erma
created by Agus Bagyo
EDITORIAL
EmpatBulan:Sebuah Proses Penting Bagi BISIS
Empat bulan adalah masa yang penting bagi sebuah proses. Selama empat bulan jasad kita di rahim ibu mencapai kesempurnaan bentuk. Empat bulan juga masa yang cukup bagi jiwa manusia untuk mengenal kebenaran.Tapi, empat bulan adalah masa yang terlalu singkat bagi BISIS untuk berbenah diri mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh para pembacanya.
BISIS sangat menyadari kalau di setiap edisinya seringklali menuai kritik yang kurang membangun; kritik diungkapkan secara tidak ilmiah. Kritik tidak disampaikan secara tertulis; tapi sebatas celotehan bak kicauan burung yang sayup-sayup hilang karena hembusan angin.
Kesadaran BISIS akan ketidaksempurnaan itulah yang membuat kru BISIS selama 4 bulan terakhir ini bekerja keras, di sela-sela kesibukannya dalam kegiatan KBM, untuk memberikan yang terbaik bagi para pembacanya. Selama waktu yang singkat itu, kru BISIS harus mengumpulkan artikel, melakukan reportase, menyeleksi naskah dan mengeditnya, juga mengirimkan naskah ke GRAYASA. Di akhir proses, kru BISIS pun harus bersibuk ria dalam pendistribusian; sehingga BISIS bisa sampai ke hadapan para pembaca.
Sebagai penutup; tidak terlambat kiranya kalau BISIS mengucapkan selamat Lebaran, minal 'aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. semoga di hari yang fitri ini, jiwa kita juga bersih dari segala penyakit hati yang mencelakakan kita di dunia dan di akhirat.
Penulis:Agus Bagyo
Saturday, September 22, 2007
Agenda BISIS
| No | Rencana Kegiatan | Tanggal Realisasi | 1 | Perekrutan Calon Redaktur | 25 Agustus 2007 |
| 2 | Seleksi Redaktur oleh Komunitas Pena | 01 September 2007 |
| 3 | Workshop Jurnalistik | |
| 4 | Breafing I | |
| 5 | ||
created by Karkun1976
BISIS on Wokshop
BATANG REGENCY GETTING FLOOD OF Kang GURU MARCHANDISE
Few days ago, the BISIS team had a special occasion in Gedung Gerakan Pramuka Dewan Kerja Cabang kabupaten Batang to interview someone from abroad. We could find only one word to express our feeling, . Her name is Mrs. Sue Rodger, she’s from Liverpool England, however she has been in Indonesia since 1993.
Mrs. Sue is an ELT materials and training coordinator of Kang GURU Radio English (KGRE). She visited Batang for giving materials at English teachers workshop which was organized by Dinas Pendidikan Kabupaten Batang and KGRE. First of all, she introduced her self, then she told us about KGRE. Do you know guys, we had read a product of KGRE. Can you guess it? Good. Magazines. We could find them in the staff room, you may ask your English teacher and enjoy them. KGRE not only produce magz but also radio broadcast, Kang GURU connection club (KGCC), workshop, and many others.
Whenever she memorises Batang, she would remember with fish, tofu (tahu in Indonesia) and Gambyong (Javanese traditional dance), however she never tatstes megono (the tradional food of Batang made of baby jackfruit). She was very happy visited Batang because she could enjoyed her favourite food like fish and tofu.
In the afternoon, Mrs. Sue met the students from SMP, SMA and SMK. She invited us to have some English activity with fun. She gave us games, quizes and songs. She also gave the Kang GURU (KG) marchandise as the rewad. I and my friend got much. So Batang got KG marchandise flood, It made us happy ever after. We never forget Mrs. Sue, the closest foreigner we’ve ever met and also thanks a million to KG, you have given us manythings such as knowledge, prises, and your sweet memory. We hope you could see all of our friends here.


